Pernahkah kalian berada dalam suatu situasi, dimana semua berjalan tidak pada tempatnya? Selalu ada saja yang salah. Seakan-akan seluruh dunia memusuhi kita. Mobil mogok, ban bocor, kehujanan, berantem dengan pacar. Dan itu semua terjadi dalam satu hari, dalam tenggang waktu 24 jam! Apakah yang kalian rasakan? Bagaimana kalian menyikapinya?
Aku terlahir sebagai suatu pribadi yang sangat emosional. Emosional disini bukan berarti labil. Oh tidak, bukan itu maksudku. Emosional disini adalah taraf tingkatan emosi yang sangat tinggi, meledak-ledak. Dan itu berlaku untuk semua emosi yang dimiliki oleh umat manusia: Marah, Sedih, Gembira. Tapi sekali lagi, emosiku tidaklah labil! Justru aku merasa dengan sifatku yang mudah meledak-ledak seperti itu, aku justru mempunyai kestabilan emosi.
Seorang yang labil, mudah sekali untuk “jatuh”. Untuk putus asa. Merasa hidupnya tidak punya arti, kehilangan gairah hidup. Aku bukannya tidak pernah merasa seperti itu. Tentu saja. Perbedaannya adalah, begitu aku merasakan emosi yang negatif, aku berusaha untuk mengangkatnya lagi. Bagaimana? Ya tadi itu. Ledakkan emosi negatif tersebut. Kalo sedih, ya nangis aja, ga usah ditahan. Kesal? Marah? Ya marahlah. Tapi kalo sudah ya sudah. Easy come easy go. That’s me. Ibaratnya seperti awan mendung. Menggantung begitu berat, membuat cuaca panas menyesakkan. Kalo udah dibuang, hujan sudah diturunkan, semua jadi cerah lagi. Ya seperti itulah kira-kira.
Kadang aku juga tidak mengerti, kenapa aku bisa punya emosi yang begitu meledak-ledak. Dan jangan dikira aku selalu menikmati keadaan seperti itu. Menjadi seseorang yang emosional sangatlah melelahkan. Menguras tenaga. Coba saja bayangkan, berapa kalori yang harus dibakar untuk telpon selama berjam-jam sambil menangis histeris meraung-raung atau meluapkan perasaan marah dan murka sampai beradu kekuatan – fisik dan mental. Satu sesi aerobic saja pasti tidak akan membakar kalori sebanyak itu.
Seseorang pernah berkata, aku selalu membuat suatu drama dari segala situasi yang aku hadapi. Dulu aku selalu membela diri dan berkelit. Sekarang, aku mengakui sendiri. Memang seperti itulah adanya. Dan aku sendiri juga tahu kalo masih memerlukan waktu yang sangat panjang untuk belajar mengatur dan meredam emosiku.
Time is the best teacher to learn to do something. But how many time do I need? It depends on myself…
















Source
A typical dragon lady, who can’t stand still. Curious, always want to learn new things. Falls in love in a crowded city, which she couldn’t like at first. Moody, stubborn, easy-going but a thinker. Spend her money mostly on Food and Books. Addicted to chocolate, comics and crime series.

