“Have you ever loved and lost somebody, wished there was a chance to say I am sorry” (Have you ever – S Club 7)
Hampir saja semuanya terlambat. Hampir, hanya kurang selembar rambut saja aku kehilangan segalanya.
Ternyata perasaan seperti itu sangat mengerikan. Perasaan bahwa suatu kesempatan – sekecil dan sesederhana apapun kesempatan itu – sudah tidak ada lagi. Kesempatan yang tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada lagi. Bahkan untuk meminta maaf pun tak ada. Aku sendiri ga pernah menyadari sampai sejauh itu. Bahwa memang benar kalo ada kalimat “Tak ada yang abadi. Semua milik kita itu semu, hanya “pinjaman” dari Sang Pemberi Hidup”.
Trust me, it is true. Takut kehilangan sesorang atau sesuatu, saking takutnya sampai kita betul-betul ingin melakukan segalanya agar itu tidak terjadi. Apapun! Ketika perasaan itu ada, baru aku sadar bahwa cintaku sudah terlalu dalam. Gila karena cinta? Lebay banget! But I was there. Dan aku sendiri sampai tidak mengenali diriku lagi dengan segala tingkahku kemarin karena begitu takutnya kehilangan.
Dan ketika sepertinya semua kesempatan itu hilang hanya satu kesempatan yang masih ada. Kesempatan dari Tuhan. Ketika semuanya sudah seperti tidak ada harapan, satu harapan masih ada. Harapan pada Tuhan. Dan ketika kesempatan itu diberikan, tidak terbuang satu detik pun dimana aku tidak mengucap syukur dan menikmati waktuku bersamanya. Saat ini, hanya satu inginku, bersamanya selamanya, meraih impian dan masa depan bersamanya.
Tapi jujur aku bersyukur, sangat bersyukur aku sudah pernah mengalami perasaan itu. Dengan aku pernah merasakan seperti itu, aku jadi belajar untuk lebih bisa menghargai apapun yang aku miliki. Siapa pun yang aku miliki. Kadang kita entah secara sadar atau tidak sadar menyakiti orang-orang yang justru terdekat dengan kita. Entah itu pasangan, sahabat atau justru orang tua dan saudara. Terkadang kita malah tidak ada maksud untuk menyakiti sama sekali. Niat kita baik, tapi caranya yang salah. Kita cenderung selalu merasa bahwa jika niatnya sudah baik, atau menurut kita baik, ya pasti baik juga untuk mereka. Padahal realitanya tidak semudah itu. Justru terkadang hal seperti itulah yang menimbulkan konflik. Dan perasaan itu juga mengajariku untuk lebih jujur terhadap perasaanku sendiri. Peristiwa kemarin, kata seseorang, adalah sebuah “teguran” karena aku tidak pernah menyadari apa arti dirinya untukku. Seorang yang keras kepala memang harus menerima bentuk “teguran” yang sekeras itu pula supaya akhirnya sadar. Mungkin…
Makanya sekarang aku belajar untuk lebih banyak berpikir. Dalam artian, semua tindakanmu, pikirkan dalam-dalam. Terkadang jika memang sudah terlanjur terjadi mintalah maaf. Just a simple word “sorry”, jelaskan maksudmu tanpa harus memberi pembelaan.
Jujur pula, perasaan takut, khawatir dan was-was itu masih ada. Takut melakukan kesalahan yang bisa menyebabkan kesempatan itu hilang lagi. Tapi seperti kata seorang sahabat: Bukan tanpa alasan kita dianjurkan untuk selalu berpikir positif. Karena semua kejadian dalam hidup kita berawal dari pikiran. Pikiran menentukan sikap, sikap menentukan hasil. So be positive and you will get a positive life.

A typical dragon lady, who can’t stand still. Curious, always want to learn new things. Falls in love in a crowded city, which she couldn’t like at first. Moody, stubborn, easy-going but a thinker. Spend her money mostly on Food and Books. Addicted to chocolate, comics and crime series.

