“Pesan moral pertama yang kudapat di hari pertamaku di sekolah: Kalau tidak rajin sholat, pandai-pandailah berenang”
Itulah kalimat pertama dalam buku “Laskar Pelangi” yang membuatku tertawa terbahak-bahak.
Sedikit terlambat memang untuk sebuah review mengenai buku ini. Memang baru liburan kemarin aku berhasil menamatkan membaca Laskar Pelangi. Siapa sih yang belum pernah mendengar tentang buku ini? Paling lambat waktu booming film layar lebarnya, bisa dipastikan hampir seluruh penduduk negeri ini tau tentang Laskar Pelangi. Jujur…, aku juga salah satunya yang “baru” mulai kena demam Laskar Pelangi SETELAH rame-rame film-nya. Sebelumnya aku cuma melirik tak acuh aja kalo kebetulan melihat tumpukan bukunya di toko buku.
Kalo ditanya apa yang paling berkesan buatku dari buku ini, banyak sekali. Tapi mungkin yang paling berkesan untukku adalah aku tidak pernah membaca kisah cinta seindah cinta pertama Ikal-A Ling. Begitu indahnya sampai menyakitkan. Padahal apa sih yang mereka lakukan? Cuma kirim-kiriman puisi dan surat, bertemu muka hanya dua kali, ngobrol baru sekali, sebelumnya hanya sebatas temu tangan saja. Atau siapa tokoh favoritku disini? Sudah pasti Lintang. Aku tidak tau apakah Lintang benar-benar exist atau hanya sebuah fiksi belaka. Lintang merupakan sebuah fenomena, simbol dari semangat yang tidak terpatahkan. Sayangnya harus berakhir sedemikian rupa. Dan masih banyak lagi. Mungkin aku harus menulis ulang seluruh buku kalo mau disebutkan satu persatu, bagian-bagian mana saja yang membuatku terkesan.
Semakin larut kedalamnya, semakin tenggelam aku terbawa dalam arus kata-kata Andrea Hirata. Lucu, cerdas dan mengena. Aku tertawa, menangis dan marah bersama dengan sepuluh anak-anak Belitong. Sudah lama aku tidak menikmati buku seindah ini. Sudah tidak sabar rasanya untuk kembali tenggelam dalam lanjutan-lanjutan tetralogi Andrea Hirata.
Next comes Sang Pemimpi

A typical dragon lady, who can’t stand still. Curious, always want to learn new things. Falls in love in a crowded city, which she couldn’t like at first. Moody, stubborn, easy-going but a thinker. Spend her money mostly on Food and Books. Addicted to chocolate, comics and crime series.


welcome to LP lover club h he heheeh
By: life1ssimple on January 9, 2009
at 8:35 am
Tunggu aja sampe bertemu dengan Marhaban Hormat Grak dan Muharam Ini Budi di buku ke-4. Bakal ngakak2 deh……
By: Antonio Carlos on January 10, 2009
at 6:47 pm
Wah…baru mereview ya…Sama aku juga bar membacanya setelah booming filmnya. Jadi terlambat karena ikut-ikutan. Maklum jarang baca buku.
By: arqu3fiq on January 14, 2009
at 3:18 pm
w inget banget pertama baca buku ini…
waktu itu gw baru ketemu dengan a pretty chinese gal di lido….
trus balik dari jakarta gw langsung baca buku ini..
en gw langsung menganalogikan pertemuan gw ama tu cewe dengan pertemuannya ikal dan a ling.. namun tanpa komedi putar dan edensor…
dan ampe sekarang, gw masih terus menunggu pertemuan dengan ce itu…
seperti ikal yang selalu setia
By: Joseph White on February 18, 2009
at 8:07 am
thanks,bwt q terharu ja
By: yongki kaka on September 12, 2009
at 9:08 pm