Tidak tau mengapa, tapi bulan-bulan di penghujung tahun selalu membawa perasaan yang melankolis pada diriku. Terutama kalo udah memasuki bulan Desember. Sebenarnya aku sama sekali tidak punya alasan untuk menjadi sentimental. Desember bukannya bulan yang indah? Perayaan Natal, persiapan menyambut tahun baru dan ulang tahunku.
Mungkin justru malah karena itulah kesentimentalan itu ada. Umur yang semakin bertambah seolah sebagai suatu tamparan. Ditambah lagi dengan momen akhir tahun, yang notabene identik dengan momen evaluasi diri. Waktunya untuk introspeksi, saatnya untuk menilai lagi tahun yang hampir berlalu. Juga saatnya untuk membuat target baru atau mengevaluasi target lama. Apa yang sudah kamu capai hingga sekarang? Dan sekali lagi aku harus dihadapkan pada situasi dimana ambisi dan ketidaksabaranku kembali menang. There could be more! It has to be more!
Sebenarnya – kalau perasaan hati sedang nyaman, pikiran tenang, dan perut kenyang – haruslah diakui kalau review tahun ini bagiku tidaklah terlalu jelek, dan tahun pun belum berakhir. Masih ada sebulan lagi. Sebagian malah over the traget. Melebihi apa yang diharapkan. So? What’s the problem? Apakan itu memang the human nature yang tidak pernah puas? Mungkin.
Seringnya memang butuh perjuangan yang sangat keras untuk menempatkan akal sehat diatas ambisi. Dan disaat-saat seperti sekarang inilah Mr. Logic harus lebih berusaha lagi untuk menarik Mr. Ambitious turun ke bumi. Akibatnya? Balik lagi ke atas: Melancholie, Sentimental dan aura-aura negatif lainnya. Toh pada akhirnya semua itu tergantung pada apa yang ingin kita raih. Bagaimana dan dimana kita menempatkan prioritas hidup kita.
Tapi disini aku mau menekankan perbedaan antara tidak pernah puas dengan tidak bersyukur. Tidak pernah puas bukan berarti aku tidak pernah mensyukuri semua yang sudah kuraih. Rasa syukurku tidak pernah habis. Sekecil apapun itu tetaplah sebuah prestasi. Tetap sebuah perubahan yang berarti. Kegagalan toh hanya sebuah keberhasilan yang tertunda. Dilihat dari sudut pandang itu, sebenarnya tidak ada kegagalan di dalam hidup ini. Seperti mantra yang selalu kuucapkan kalau aura negatif itu sudah mulai mengetuk lagi. Semudah itu.
So, why so sad?
A typical dragon lady, who can’t stand still. Curious, always want to learn new things. Falls in love in a crowded city, which she couldn’t like at first. Moody, stubborn, easy-going but a thinker. Spend her money mostly on Food and Books. Addicted to chocolate, comics and crime series.


musim hujan = musim mellow
By: fahmi! on November 18, 2008
at 2:37 pm
Kadang realisasi bahwa umur kita tambah gede bikin kita jd mikir
By: life1ssimple on November 18, 2008
at 6:23 pm
“Perayaan Natal, persiapan menyambut tahun baru dan ulang tahunku”
Jud, paket lengkap tuh. Kadonya dobel-dobel donk.
BTW, salut sama semangatmu, Jud.” TIDAK ADA KEGAGALAN DALAM HIDUP INI”.
By: lamendol on November 21, 2008
at 12:28 pm
2Mendol – kado2nya malah seringnya dijadiin satu hiks …
By: judeangel on November 22, 2008
at 8:40 am
@life1ssimple: musim hujan musimna selimutan … hehe
By: aRai on November 24, 2008
at 11:45 pm
kok jadi life1ssimple yah … pedahal mo ngetik om fahmi! … hehe
By: aRai on November 24, 2008
at 11:47 pm
[...] juga bertambah umur seiring dengan pergantian tahun, juga seperti itu. Malah seringkali aku semi-stress menghadapi masa akhir tahun. Rasa takut yang tidak beralasan dan ketidakpuasan terhadap apa yang sudah [...]
By: Que sera sera - Happy new year 2009! « Jude and The City on January 7, 2009
at 1:57 pm
[...] juga bertambah umur seiring dengan pergantian tahun, juga seperti itu. Malah seringkali aku semi-stress menghadapi masa akhir tahun. Rasa takut yang tidak beralasan dan ketidakpuasan terhadap apa yang sudah [...]
By: Que sera sera - Welcome 2009! « Jude and The City on January 7, 2009
at 1:59 pm