Aku adalah tipe personality yang sangat spontan dan bertemperamen tinggi. Grusa-grusu kata orang tuaku dulu. Nyolotan pernah seorang teman berkomentar. Tidak sabaran apalagi. Oke memang begitulah adanya dan aku mengakuinya dengan sepenuh hatiku. Jujur aja aku tapi tidak pernah bermaksud jahat kepada semua orang. Reaksiku begitu karena begitulah aku. Kadang kalo mau seenaknya sendiri bisa saja aku selalu bilang:
“Ya emang begitu mo diapain. Loe terima sukur, ga terima ya urusan loe!“
Weits, tapi kalo begitu caranya, gimana mau hidup bersosialisasi? Gimana mo punya temen? Di umurku yang udah kepala tiga ini aku boleh mengakui kalo aku banyak belajar dari pengalaman. Aku juga belajar memahami sifat-sifat dan watak-watak orang di sekitarku. Tidak selalu berhasil memang, aku akui. Kadang masih ada konflik yang timbul. Tapi mungkin disinilah initinya. Hidup macam apa sih yang ngga menawarkan konflik? Setiap individu kan dikaruniai kemampuan dan kebebasan untuk berpikir. Dan untunglah seperti itu. Mungkin memang sangat melelahkan dan menguras tenaga suatu konflik itu, tapi tanpa konflik, kita tidak akan pernah bisa berkembang. Perkembangan pribadi kita ada karena kita belajar untuk mengatasi konflik.
Aku bukan psikolog atau psikiater. Jadi aku tidak mempunyai kompetensi untuk menilai sifat-sifat orang secara profesional. Tapi entah mengapa, mungkin aku harus berterima kasih kepada sang guru Pengalaman, saat ini aku bisa berkata kalo Human Knowledge-ku boleh dibanggakan. Sebut saja insting yang semakin lama semakin tajam. Bisa saja begitu. Semakin matang. Mungkin juga.
Tapi aku belum mau menyebut diriku dewasa. Apa sih arti dewasa itu? Kapan kita mencapai kedewasaan?
Istilah dewasa menggambarkan segala organisme yang telah matang, tapi lazimnya merujuk pada manusia: orang yang bukan lagi anak-anak dan telah menjadi pria atau wanita dewasa. Kedewasaan dapat didefinisikan dari aspek biologi, hukum, karakter pribadi, atau status sosial. Berbagai aspek kedewasaan ini sering tidak konsisten dan kontradiktif. Seseorang dapat saja dewasa secara biologis, dan memiliki karakteristik perilaku dewasa, tapi tetap diperlakukan sebagai anak kecil jika berada di bawah umur dewasa secara hukum. Sebaliknya, seseorang dapat secara legal dianggap dewasa, tapi tidak memiliki kematangan dan tanggung jawab yang mencerminkan karakter dewasa. [http://id.wikipedia.org]
Ya lihat saja definisi diatas. Sama sekali tidak jelas bukan? Makanya seringkali aku ngga mengerti kalo ada yang mendefinisikan dirinya sendiri:
“Aku sudah bertambah dewasa”
Ya bagaimana mereka bisa tahu taraf kedewasaan mereka, itu yang membuatku tercengang.
Kalo aku pribadi, aku mendefinisikan pribadiku bukan dengan kedewasaan. Menurutku aku mengalami perubahan watak menuju arah yang lebih baik. Entah itu lebih sabar, lebih bisa menerima kekurangan orang atau lebih tidak grusa-grusu dalam mengambil keputusan. Tapi aku sepertinya tidak akan pernah yakin untuk menyebut diriku dewasa. Kedewasaanku mungkin hanya orang lain yang bisa menilainya. Dan sampai detik ini belum ada seorangpun yang sudah begitu baik hatinya untuk menyebutku dewasa.
Sayangnya….
A typical dragon lady, who can’t stand still. Curious, always want to learn new things. Falls in love in a crowded city, which she couldn’t like at first. Moody, stubborn, easy-going but a thinker. Spend her money mostly on Food and Books. Addicted to chocolate, comics and crime series.


Hmmmm…. (sambil manggut2)
By: Antonio Carlos on November 4, 2008
at 2:16 pm
2Carlos – *memandang dengan mengerenyitkan dahi mencoba menelaah arti “hmmm dan manggut2″-nya
By: judeangel on November 4, 2008
at 2:52 pm
Walaupun dipandangi dengan mengernyitkan dahi tetep aja, Hmmmm….. (sambil manggut2)
By: Antonio Carlos on November 5, 2008
at 9:59 am
aku bukan psikolog ataupun pujangga… aku hanya blogger biasa yg pengen komen disini…
By: bloGEsam on November 9, 2008
at 12:17 pm
ikut manggut2 n mengernyitkan dahi…..hmmm…..
By: life1ssimple on November 14, 2008
at 7:22 am