Posted by: judeangel | August 8, 2008

Merdeka bangsaku – Merdekakah diriku?

Source

Waktunya sudah sebentar lagi. Sudah banyak persiapan yang dilakukan oleh para warga, entah itu di desa, kota, kelurahan, kecamatan, RT maupun RW. Umbul-umbul warna warni, tempelan poster woro-woro sudah mulai melekat dimana-mana. Tidak ketinggalan pula bendera dua warna yang sudah sangat melekat di jiwa dan raga rakyat Indonesia selama 63 tahun ini. Yup memasuki bulan Agustus, apa lagi kalo bukan perayaan Hari Kemerdekaan RI yang pada tahun ini udah memasuki tahun yang ke-63.

63 tahun merdeka. Benarkah kita sudah benar-benar merdeka? Ternyata pertanyaan ini ga hanya menghantui aku aja. Ada lagi yang mengatakan merdeka dari asing iya tapi apakah juga merdeka dari bangsa sendiri? Ya memang itulah kenyataan yang memprihatinkan di Negara kita tercinta ini.

Aku sendiri memang sering memikirkan dan mempertanyakan tentang realita-realita yang sama, fenomena-fenomena dan kenyataan yang membuktikan kalo kita sebenernya blom 100% merdeka.

Tapi sebenarnya disini aku pengen mulai dari lingkup yang termudah dan yang terkecil saja dulu. Diri kita sendiri. Our own life, our own person. Secara waktunya juga pas kan, mumpung mo perayaan kemerdekaan Indonesia, mengapa kita juga ga mulai juga introspeksi diri kita sendiri dulu? Sudahkah kita merdeka?

Merdeka disini punya artian yang luas. Luas karena kebebasan ato kemerdekaan itu bisa dari apa saja yang menghantui hidup kita selama ini. Seorang teman pernah berkata “Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri“. Hell damn right he was! Selama ini kita berjuang melawan musuh-musuh dari luar, penjajah, saingan kerja ato apalah. Tapi ya itu ternyata musuh terbesar ada dalam diri kita sendiri. Permasalahannya sering kali kita ngga sadar akan hal itu. Sering kali kalo ada sesuatu yang ga berjalan sesuai rencana, kita menyalahkan orang atau unsur-unsur lain. Hey, that’s a human nature! Emang gampang kok melemparkan kesalahan daripada introspeksi dan melihat kedalam diri kita sendiri.

Ada seorang teman yang lain yang sering melontarkan kata “luka batin”. Kalo dipikir-pikir ya bener juga, tiap manusia pasti punya bentuk luka batin. Entah apapun itu tapi yang jelas luka batin ini sudah menjadi momok dan mempengaruhi cara pikir dan proses pengambilan keputusan dalam hidup kita. Ya kayak Belanda selama 350 tahun yang menjajah kita. Atau penjajahan ala jaman Orde Baru. Itu semua kan meninggalkan bekas-bekas luka batin di diri rakyat Indonesia.

Sama juga seperti nasib bangsa kita sebenarnya. Melihat keadaan bangsa kita yang seperti ini, tentu saja kita menyalahkan para petinggi bangsa, pemerintah, pemimpin. Tapi dibalik lagi sajalah, sekarang kontribusi apa yang sudah kita lakukan untuk negara ini? Misalnya kalo pada complain tentang korupsi, tapi kalo kena tilang di jalan apa siy yang kita lakuin (umumnya)? Nyogok juga kan? “Damai aja pak, ini Rp 20.000“. Apa itu bukan suatu bentuk suap-menyuap dan korupsi juga? Gembar gembor tentang global warming, tapi buang sampah seenaknya, pake kendaraan yang udah ga diservis bertahun-tahun hingga emisi-nya udah ga jalan lagi.

Makanya teman, sebenarnya untuk memajukan bangsa ini kuncinya ada pada diri kita sendiri. Ga usah yang muluk-muluk dulu deh. Ga usah punya tujuan tinggi-tinggi dulu. Benahi diri kita sendiri. Kumpulkan keberanian dan kalahkan penjajah dalam diri kita sendiri dulu.


Responses

  1. Di Timur Matahari mulai bercahya
    Bangkit dan berdiri kawan semua
    Marilah mengatur barisan kita
    Pemuda-pemudi Indonesia

    Ayo…… mari kita atur barisan kita, siap melawan penjajahan di dalam jiwa kita…….. Lihatlah….. di timur matahari mulai bercahya(masa depan)
    Tetep semangat…… Cia you euy….. :D

  2. Waaah Jude,aku belum merdeka kiy ..*hihi
    Sekarang bisa komment,di MP-mu aku nggak bisa komment, nggak ada account.

    Have a nice day Jude ..

  3. O ya, lali aku. Silahkan kalo mo dilink ..

  4. [...] their new leader, and in their work. Indonesian people never stop struggling to find their own independence. When they feel free at last. From poverty, from oppression, and from injustice. When is your [...]


Leave a response

Your response:

Categories