Posted by: judeangel | December 31, 2009

Happy New Year – A Year’s Review

Again, we stand at a year’s end. And again I become a year older in this last day of the year. Thank to God for giving me another one year to get older, to be wiser, hopefully. A year more to be with my family and my friends, all the people I love.

And again in this last day of the year, whether I like it or not, I make my year’s overview. What I have done, what I have achieved, new friend I have made. Being consistent with what I had purposed on the beginning of 2009, I hadn’t made any resolution. No concrete goals, such as I have to get married, I have to get a new job, promotions and so on through this year. I can’t complaining. This year had given me lots of possibilities, new friends and new chance.

It was not an easy year though. I had to go through some difficult times, silly fights with friends or my beloved ones, jobs I really hate to do. But thank God, I have learnt this year to be thankfull for everything. I have seen every challange and every problems as a probation to be a better person, not as a punishment. I have tried to be more positive. Yet, the way is still far away from perfect.

Tonight, only a couple hours left to the new year, three hours left for my Birthday, I am very thankfull for something I always have in my life: family and good friends. Their love, I realize is the only thing, that keeps me strong. Today, with all the birthday wishes, I am welcoming a new chapter of life in the new year.

Happy new year 2010. May the new year will bring us luck and happines. God’s bless will always be with us.

Posted by: judeangel | December 1, 2009

A tale for the 1st of December

Today, December 1st. Hari AIDS sedunia. Tapi anehnya seharian aku pantau situs FB-ku tidak ada seorangpun temanku yang menulis status mengenai ini.  Aneh, aku jadi berpikir, tidak ada seorangpun kah yang perduli? Mungkin… 

Mungkin tidak banyak dari kita yang pernah berhubungan dengan penderita HIV AIDS. Membayangkannya pun mungkin tidak pernah. 

Dulu aku mungkin juga ga akan terlalu perduli. Hari AIDS tanggal 1 Desember akan berjalan seperti hari-hari yang lain juga. Tapi tidak sejak beberapa tahun terakhir ini. Sejak aku kehilangan seseorang akibat HIV AIDS. Jujur aku sampai saat ini ga tau, apakah penyakitnya sudah masuk ke tahap AIDS atau belum waktu dia harus menyerah pada penyakitnya.

Seorang sahabat, bisa dikatakan begitu. Meskipun aku hanya sempat setaun saja mengenalnya. Kesan pertamaku dia orangnya pendiam, tertutup. Susah banget diajak ngobrol. Oke typical seniman. Agak unik kepribadiannya. Sensitif, moody. Tapi dia sangat kreatif. Aku sangat menyukai lagu-lagu ciptaannya. Bener-bener penuh perasaan. Terkadang juga terkesan cengeng. Tapi ga picisan. Aku rasa dia ingin mengungkapkan perasaan dan isi hatinya melalui lagu-lagu ciptaannya. 

Suatu ketika, saat hunting kostum manggung, secara ga sengaja aku membuka rahasia gelapnya. Bekas-bekas suntikan tersebar di seluruh lengannya. “Tatoo masa lalu bu” begitu katanya. Masa lalu yang mengikutinya dan memaksanya untuk menyerah pada akhirnya. 

Sejak itu dia mulai membuka diri. Sejak itu aku jadi semakin sering bertukar pendapat dengannya. Tidak jarang juga dia jadi penasihat untuk masalah-masalahku. Ga pernah banyak bicara, tapi selalu mengena.

Kemudian datang masanya dimana keadaannya memburuk. Aku sendiri sampai sekarang masih ga tau apa pemicunya. Lama dia menarik diri dari peredaran, dari kami teman-temannya. Saat kami bertemu lagi dengannya setelah sekian lama, tubuhnya yang kurus jadi makin kurus. Saat itu aku mendengar tentang penyakitnya yang selama ini selalu berusaha disembunyikannya: HIV.

Tapi masih terlihat semangat juangnya melawan penyakitnya. Tapi toh ternyata terlambat. Tidak lama setelah kondisinya memburuk, dia pun pergi. Aku tidak sempat melihatnya di saat-saat terakhirnya. Aku tidak sempat berpamitan. 

Aku merasa kehilangan teman untuk bertukar pikiran. Aku kehilangan seorang penasihat. Tapi aku juga berbahagia untuknya, karena dia telah mendapatkan pembebasan. Pembebasan dari segala penyakit yang di deritanya. Aku bersyukur pernah mengenalnya. Satu lagi malaikat yang dikirim Tuhan untuk memberiku pengalaman hidup, meski akhirnya Tuhan memanggilnya kembali.

Selamat jalan sahabat, kami akan selalu mengenangmu. Lagu-lagumu akan selalu kami putar bila merindukanmu.

Posted by: judeangel | November 21, 2009

Sepenggal curahan hati rakyat

Melihat acara di TV akhir-akhir ini bukannya jadi hiburan tapi justru malah bikin bete, jutek dan bad mood level tinggi. Intinya menyebalkan dan memuakkan! Udah berminggu-minggu kita pemirsa televisi dirumah dicekoki dengan pertikaian yang tidak kunjung ada juntrungannya, tidak jelas lagi arah dan tujuannya. Seharusnya siy bukan hal yang baru lagi, secara politik dan semua kebusukannya kan sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari.

Tapi yang membuat semuanya menjadi LEBIH memuakkan dari biasanya adalah para pelaku politik ini sepertinya sekarang bermutasi menjadi wannabe actrees, wannabe prominent. Dengan alih-alih “transparasi politik untuk rakyat”, kita disuguhi tayangan semi Live dari ruang sidang. The BIG BROTHER of Politics. Ajang politik sekarang tidak ada bedanya dengan Infotainment. Seperti gosip picisan! Cara mereka berlaku di depan kamera mengalahkan sinetron yang paling ancur sekalipun! Jujur aja melihat tingkah polah mereka ada sebersit penyesalan mengapa pada PEMILU lalu aku bela-belain menggunakan hak pilihku.

Ternyata secercah rasa optimismus dari kami para rakyat tidak bisa berlaku di negeri ini. Diam-diam mereka tertawa kegirangan. Puas karena sudah berhasil membodohi rakyat. Optimismus dan idealisme… Dua kata yang tidak pernah dapat berlaku di negara ini. Jadi coret saja keduanya dari dalam kamus Bahasa Indonesia! Mudah kan? Toh tidak ada penggunaannya!

Belum cukup dengan politik ikan asin, kita masih harus mendengarkan omong kosong tentang hal-hal yang bukan main picisannya! Film yang dicekal hanya gara-gara satu atau beberapa organisasi tidak pernah mudeng tentang arti FIKSI. Bukan main!!!! Tapi bukankan yang ada setiap harinya di layar kaca lebih parah dari sebuah film berjudul 2012????

Kadang memang sulit sekali menumbuhkan rasa bangga menjadi warga negara ini. Padahal kalo kita lihat begitu banyak potensi yang dimiliki negara kita. Begitu indahnya negeri ini. Kami menyadari itu. Dan oleh karena itu kami dulu pernah merasa optimis dan berharap. Berharap akan sebuah perubahan.

Harapan itu pernah ada. Tapi rasanya tidak akan bertahan lama.

Posted by: judeangel | October 14, 2009

Nikmat Semanis Madu Udang Bakar Madu Mang Engking

Bulan September kemarin entah mengapa banyak banget temen-temen lama dari luar negeri pada mudik. Awal bulan my old childhood friend was visiting Indonesia and we have met again after 14 – yes FOURTEEN years.  Setelah itu, akhir bulan giliran my old German Ladies Gang yang mampir ke Surabaya.

Of course, wisata kuliner pasti ga boleh ketinggalan dalam schedule. Kalo mau dibeberin satu persatu ga akan cukup waktu dan tempat. Lagian kalo nyeritain rujak cingur dan bebek kan udah sering. Makanya kali ini pengen menyajikan sesuatu yang berbeda, import dari luar Surabaya.

Bagi yang sering berwisata ke Jawa Tengah, khususnya daerah Jogjakarta, pasti sudah pernah mendengar tentang kesohoran Udang Bakar Madu Mang Engking.   Dan sejak setahun yang lalu, Mang Engking melebarkan sayapnya merambah pasar Jawa Timur dengan membuka cabang di Pandaan. Tentu saja suatu keharusan untuk berkunjung kesana dengan teman-teman dari Jerman dan Jakarta.

Pertama kali nyobain Mang Engking kira-kira tiga taon silam di Jogja. Jangankan untuk seseorang yang baru pulang dari Jerman yang notabene jarang banget beli seafood segar, untuk siapa saja porsi Mang Engking terbilang heboh. Apalagi Mang Engking juga menawarkan paketan untuk dua sampai enam orang dengan harga yang sangat terjangkau. Bayangkan saja satu paket untuk enam orang terdiri dari Udang Bakar Madu, Udang Saos Inggris, Udang Goreng, Gurame Bakar, Gurame Bumbu Sambal, Tumis Kangkung, Karedok, Es Teh dan Es Jeruk serta Nasi di banderoll Rp 300.000,-, jadi perorang hanya harus menyumbang Rp 50.000,- saja!

bareng_bareng

Kelebihan dari hidangan Mang Engking tentu saja selain rasa adalah kesegaran bahan-bahannya. Lokasi Mang Engking selalu menjadi satu dengan tambak udang dan ikannya sehingga udang dan ikan yang disajikan sudah pasti terjamin kesegarannya. Dikonsep seperti saung-saung pedesaan di daerah Pandaan yang sejuk, membuat selera makan tentu saja semakin berlipat ganda.

Soal rasa tidak perlu lagi dipertanyakan.  Sensasi manis madu dipadukan dengan gurihnya Udang Galah Jumbo segar menjadikannya memang layak menjadi trademark Mang Engking.

udang_bakar_madu

Udang yang lainnya pun tidak kalah pamor.

udang_inggris_dan_goreng

Tapi jauh lebih istimewa lagi adalah Gurame Bumbu Sambal. Oke jujur first impression agak-agak meragukan, sang Gurame hampir “tertimbun” oleh potongan cabe, jeruk limau dan rempah-rempah. Tapi setelah dimakan… Luar Biasa! Renyahnya gurame yang digoreng garing nikmat disantap dengan bumbu dengan rasa pedas cabe dan segarnya jeruk limau. Benar-benar sempurna… At least in our humble opinion :)

gurame_bumbu

It’s definitely worth untuk menempuh perjalanan lumayan panjang dari Surabaya ke Pandaan untuk menikmati kelezatan Mang Engking sebagai selingan sejenak dari panasnya Surabaya.

Pictures by Edward Lie Photography 
Posted by: judeangel | March 14, 2009

The Never Ending Questions

Ijinkan aku bercerita mengenai suatu fenomena – yang mungkin sebagian besar dari kita juga sudah pernah mengalaminya. At least aku pribadi sering mengalaminya dan jujur saja awalnya aku sangat amat terganggu. Tapi sekarang, I found it quite funny actually.

Fenomena yang kumaksud disini adalah saat-saat dimana lingkungan disekitarku mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kadang aku sendiri belum tau jawabannya – atau sudah tau jawabannya tapi malas untuk membahasnya. Biasanya fenomena itu muncul pas jaman-jaman kuliah.

Waktu aku kuliah dulu – kira-kira masuk tahun kelimaku di Jerman, para kerabat sudah mulai ribet mempertanyakan kapan kuliahku bakal rampung. Tentu saja mereka ngga tau kalo kuliah itu – apalagi di negara yang bahasanya saja baru kukenal waktu mendarat disana – ngga gampang. Disambi pula dengan kerja untuk menyambung hidup. Tapi yang dilihat toh hanya jumlah tahun yang semakin membengkak dan bahwa itu equals dengan kuliah yang ga selesai-selesai dan mungkin juga pikir mereka aku ongkang-ongkang kaki disana. Ok, quite annoying at the moment. Dan waktu itu aku juga masih niat untuk memberi penjelasan panjang lebar. Atau mungkin lebih ke pembelaan diri? Entahlah.

Fase kedua adalah saat aku punya pacar dan waktu pacaran kami juga sudah mulai masuk ke hitungan satu dekade. Pertanyaannya: Kapan merit? Waktu itu aku udah males membahas. Aku masih ingat banget, jawaban apa yang ada di kepalaku: Buat apa merit, toh di sini (Jerman waktu itu) ga perlu merit idup juga udah kayak orang berkeluarga. Tapi akal sehat toh masih menang dan sopan santun pun masih ada sehingga aku cuma menjawab: Masih nunggu waktu yang tepat.

Ketika aku toh memutuskan untuk merit, pertanyaan itu tentunya ga berhenti sampai situ aja. Next level: Kapan punya anak? Astagaaa… Ya kalo kalian mo kirim duit buat biaya ngurus anak di Jerman siy aku dengan senang hati melahirkan calon-calon Cintha Laura yang berikutnya! Lho, kan di Jerman kalo punya anak terima uang subsidi dari negara? Ya emang bener, tapi apakah kemudian semudah itu? Siapa yang akan menjaga anakku kalo kami kerja? Babysitter di Jerman dibayar perjam, dan gaji per-jamnya setinggi gaji bulanan babysitter Indonesia!

Kalo mau diteruskan mungkin akan masih panjang lagi. Juga ketika aku memutuskan untuk balik ke Indonesia, meninggalkan kehidupanku disana, meninggalkan suami, memutuskan untuk berpisah. Atau sekarang disaat aku mempunyai sebuah kehidupan yang baru, pasangan baru, pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah berhenti. Dan lucunya pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah datang dari lingkungan terdekatku. Orang tua, adik, sahabat-sahabat terdekatku sama sekali tidak pernah mempermasalahkan semua itu tadi. Mungkin karena mereka mengenalku atau mereka hanya membiarkan aku menjalani kehidupanku sendiri.

Sebenarnya mungkin maksud mereka baik – dalam tanda kutip. Mereka concern padaku. Tapi kok sampe segitunya itu yang aku kadang ga ngerti. Dan sampai kapan akan berlanjut? Apakah sampai pada pertanyaan: Kapan mati? Na ja… mungkin sedikit berlebihan. Tapi bukankah memang agak berlebihan?

Posted by: judeangel | February 24, 2009

Bad Memories

Mungkin hampir semua orang mempunyai bad memories. Maksudnya bukan ingatan buruk atawa lupa ingatan ato kasarnya mulai pikun. Bad Memories disini adalah kenangan-kenangan yang sebenarnya sangat ingin untuk dibuang jauh-jauh dari ingatan. Wish they were never been there. Tentunya karena ingatan akan hal-hal tersebut membawa perasaan yang sangat tidak mengenakkan.

Aku – seperti semua orang – tentunya juga punya kenangan-kenangan yang tidak mengenakkan itu tadi. Melupakannya pun aku tidak mampu. Karena semuanya melekat dan sudah menjadi bagian dari hidupku. Paling banter yang bisa kulakukan adalah tidak terlalu sering untuk mengingatnya. Tapi terkadang mereka juga ngga bisa diajak kompromi. Seringnya mereka datang pada saat aku sangat tidak membutuhkan mereka. Dan tentu saja sering kali kedatangan mereka merusak hariku, merusak mood-ku.

Tapi bukankah kenangan-kenangan akan pengalaman yang tidak mengenakkan dimasa lalu itulah yang menjadikan aku seperti yang sekarang ini? Ya untungnya siy aku bukan tipe orang yang larut berkepanjangan dalam penyesalan. Kenangan buruk memang masih membuat perasaan tidak enak, tapi apakah menyesal? Aku kira tidak. Biarkan saja mereka disana. Di masa lalu. Jangan biarkan mereka mempengaruhi hari ini. A little bit bad mood it’s ok. Tapi jangan sampai membuat kita tidak bisa lagi menatap kedepan.

dedicated to all my beloved bad memories... Even though I still love you!
And to someone... let all the memories be memories! You have to face the future!
Posted by: judeangel | January 8, 2009

Laskar Pelangi

laskar-pelangi1


“Pesan moral pertama yang kudapat di hari pertamaku di sekolah: Kalau tidak rajin sholat, pandai-pandailah berenang”

Itulah kalimat pertama dalam buku “Laskar Pelangi” yang membuatku tertawa terbahak-bahak.

Sedikit terlambat memang untuk sebuah review mengenai buku ini. Memang baru liburan kemarin aku berhasil menamatkan membaca Laskar Pelangi. Siapa sih yang belum pernah mendengar tentang buku ini? Paling lambat waktu booming film layar lebarnya, bisa dipastikan hampir seluruh penduduk negeri ini tau tentang Laskar Pelangi. Jujur…, aku juga salah satunya yang “baru” mulai kena demam Laskar Pelangi SETELAH rame-rame film-nya. Sebelumnya aku cuma melirik tak acuh aja kalo kebetulan melihat tumpukan bukunya di toko buku.

Kalo ditanya apa yang paling berkesan buatku dari buku ini, banyak sekali. Tapi mungkin yang paling berkesan untukku adalah aku tidak pernah membaca kisah cinta seindah cinta pertama Ikal-A Ling. Begitu indahnya sampai menyakitkan. Padahal apa sih yang mereka lakukan? Cuma kirim-kiriman puisi dan surat, bertemu muka hanya dua kali, ngobrol baru sekali, sebelumnya hanya sebatas temu tangan saja. Atau siapa tokoh favoritku disini? Sudah pasti Lintang. Aku tidak tau apakah Lintang benar-benar exist atau hanya sebuah fiksi belaka. Lintang merupakan sebuah fenomena, simbol dari semangat yang tidak terpatahkan. Sayangnya harus berakhir sedemikian rupa. Dan masih banyak lagi. Mungkin aku harus menulis ulang seluruh buku kalo mau disebutkan satu persatu, bagian-bagian mana saja yang membuatku terkesan.

Semakin larut kedalamnya, semakin tenggelam aku terbawa dalam arus kata-kata Andrea Hirata. Lucu, cerdas dan mengena. Aku tertawa, menangis dan marah bersama dengan sepuluh anak-anak Belitong. Sudah lama aku tidak menikmati buku seindah ini. Sudah tidak sabar rasanya untuk kembali tenggelam dalam lanjutan-lanjutan tetralogi Andrea Hirata.

Next comes Sang Pemimpi

Posted by: judeangel | January 7, 2009

Que sera sera – Welcome 2009!

Happy New Year! Tahun Baru! Wuah telat banget ya, udah kelewat enam hari baru sekarang muncul tulisan tahun baruannya. Udah banyak yang nanya juga kok lama ga update blog. Jawaban sejujurnya: Males. Bukan ga ada ide. Soal ide otak ini udah penuh dengan ide. Hanya kemalasan aja sih yang menghambat.

Seperti biasa kalo masuk ke tahun yang baru, pertanyaan standard adalah: What’s your Resolution for this year? Resolusi apa yang kamu buat untuk tahun ini? Rencana dan harapan-harapan apa yang ingin dicapai tahun ini? Dan pasti dari semua yang ditanya, sebagian besar jawabannya pasti: pengen lebih baik dari tahun kemaren. Harus lebih sukses, mencapai yang lebih tinggi dari yang sebelumnya. Dan sekitar-sekitar itu deh. Lebih lebih dan lebih.

Aku sendiri, yang kebetulan juga bertambah umur seiring dengan pergantian tahun, juga seperti itu. Malah seringkali aku semi-stress menghadapi masa akhir tahun. Rasa takut yang tidak beralasan dan ketidakpuasan terhadap apa yang sudah dicapai.

Taruhan deh! Coba kita catat semua harapan, rencana dan keinginan kita untuk tahun ini, kemudian masukkan ke dalam amplop, kubur dalam tanah atau kunci dalam lemari. Lupakan tentang secarik kertas itu. Jalankan tahun ini seperti biasa, normal saja. Catat semua kejadian, entah itu keberhasilan ataupun kegagalan. Perasaan tidak puas itu pasti akan datang di akhir tahun. No matter what we have done, no matter how much we have earned. Di akhir tahun, pada tanggal 31 Desember 2009 pukul 23.59 coba keluarkan secarik kertas yang pada awal tahun kita simpan tadi. Baca isinya dan pasti kita akan mendapatkan bahwa apa yang telah kita raih sepanjang tahun ternyata sudah melampaui apa yang kita inginkan. Tapi tentu saja dengan catatan bahwa semua resolusi dan keinginan harus yang realistis saja. Jangan yang diluar batas kemampuan kita.

Memasuki 2009 ini, aku jujur saja belum punya resolusi yang jelas. Selain tentu saja yang umum-umum seperti yang sudah tercantum diatas, boleh dibilang aku ingin mengisi tahun 2009 ini dengan motto “let it flow“. Que sera sera, whatever will be will be. Dengan begitu, pada akhir tahun nanti harapanku adalah tidak lagi terkena serangan panik berlebihan, yang pada akhirnya toh ternyata tak beralasan!

Tapi jangan dikira, aku tidak akan berusaha dan bekerja keras. Bukan itu maksudnya. Pesan moral dari semuanya adalah, untuk lebih menjalani kehidupan seperti apa adanya, mensyukuri yang ada dan tidak membebani diri sendiri dan orang lain dengan hal-hal yang toh belum waktunya kita dapatkan. Itu saja.

Jadi resolusi 2009? Keep positive thinking and love yourself and the other. That’s it!

Happy new Year everyone!

Posted by: judeangel | December 11, 2008

To love somebody

To love somebody
Is to wish him all for his happiness
To know that he is alright
To know that he finally has the life he always wants to have

It breaks my heart
To hear that he suffers
To feel his pain
To know that his happiness could only be me

But why I could not say
I will do anything to make him happy
I will give everything to be with him
Why couldn’t I say it?

When two hearts love each other
Why can no one take the step
And saying… yes I will do it for us

Is the love not strong enough
Is it still love
Or just a guilty conscience?
Feel sorry?

I can not answer
I don’t have the answer

Dedicated to someone, the greatest love of my life
Posted by: judeangel | December 3, 2008

Supernatural

Beberapa hari yang lalu, waktu “liburan” singkat ke Jakarta, ada seseorang – sebut saja Om S – yang berkata kepadaku kalo aku ini punya bakat. Nice to know. Bukannya seseorang memang dianugerahi bakat dari lahir? Tapi sebenernya bakat apaan? “Bakat” yang dimaksud disini adalah bakat sixth sense, indra keenam. Nah lho, tambah bingung dong aku. Perasaan aku ini orang yang bener-bener ga peka masalah gituan. Hal-hal ghoib kalo lebih dispesifikasi lagi. Lebih jelasnya lagi, aku cuek. Dibilang perduli ngga, ga perduli ga juga. Dibilang percaya ngga, ga percaya, ya ga juga. Let me say, sejauh mereka ngga mengganggu, it’s ok. They live in their own world and we live in ours. Gitu.

Balik lagi ke masalah “bakat” itu tadi. Jelas aku bengong dong. Masa sih? Dari mana? Dan yang lebih penting lagi: Apa dan bagaimana :D ? Om S ini – yang mengungkap bakatku – bukan orang sembarangan. Aku tau sendiri beliau memang udah “senior” di hal-hal begini. Jadi ga mungkin dong dia cuma iseng ngomong just for fun doang. Ditanya darimana Om S sendiri juga bingung. Sebenarnya ada dua macam asal “bakat” itu tadi: turunan alias genetik atau diajarin dan dikasi dari orang yang udah punya. Lha punyaku ga dari dua-duanya. Entah dari mana datangnya beliau juga ngga tau.

Aku jadi berpikir apakah seperti itu menular? Secara banyak teman disekelilingku yang juga dianugerahi “bakat” tersebut. Salah satunya my babe. Dia ini ga bisa ngeliat dengan mata, tapi dia ngeliat dengan pikiran atau batin. Ceritanya kadang konyol juga, dari yang pernah ngomelin pocong sampe mencoba menghibur Mbak Kunti. Urusan apa? Ngga ngerti juga. Hanya dia dan mereka yang tau. Temenku satu lagi udah beda lagi. Nah kalo dia ini levelnya udah lumayan. Dia juga penasihat spiritualku – istilah keren untuk teman curhat :D ! Berkat penalarannya aku dapat melewati masa-masa sulit hidupku dengan penuh persiapan. Love you so much, Cuttie!

Lalu bagaimana dengan aku? Aku sama sekali tidak punya kemampuan melihat makhluk halus, melihat masa depan atau meraba masa lalu. Om S juga menjelaskan, kemampuan supernatural itu bukan hanya sebatas itu saja. Alirannya ada banyak. Dan kebetulan punyaku memang bukan yang ke divisi makhluk ghoib. Memang kalo boleh diakui ada beberapa peristiwa yang murni aku hanya mengandalkan perasaan belaka, tapi selalu menunjukkan kebenaran. Tapi selama ini aku mengira itu semua hanya insting yang semakin tajam. Ga pernah menyangka kalo ternyata itu bukan sekedar human knowledge belaka.

Untuk lebih memperdalam, aku harus belajar untuk lebih bisa mengatur dan memfokuskan pikiranku saja. Banyak latihan untuk mempertajam perasaan. Penasaran? Sudah pasti. Apalagi dengan sifatku yang serba ingin tahu begini. Siapkah aku? Nah itu yang aku belum tahu. Sepertinya Om S masih harus menjelaskan lebih banyak lagi sebelum aku memutuskan untuk memperlengkap “bakat”-ku.

Older Posts »

Categories