Today, December 1st. Hari AIDS sedunia. Tapi anehnya seharian aku pantau situs FB-ku tidak ada seorangpun temanku yang menulis status mengenai ini. Aneh, aku jadi berpikir, tidak ada seorangpun kah yang perduli? Mungkin…
Mungkin tidak banyak dari kita yang pernah berhubungan dengan penderita HIV AIDS. Membayangkannya pun mungkin tidak pernah.
Dulu aku mungkin juga ga akan terlalu perduli. Hari AIDS tanggal 1 Desember akan berjalan seperti hari-hari yang lain juga. Tapi tidak sejak beberapa tahun terakhir ini. Sejak aku kehilangan seseorang akibat HIV AIDS. Jujur aku sampai saat ini ga tau, apakah penyakitnya sudah masuk ke tahap AIDS atau belum waktu dia harus menyerah pada penyakitnya.
Seorang sahabat, bisa dikatakan begitu. Meskipun aku hanya sempat setaun saja mengenalnya. Kesan pertamaku dia orangnya pendiam, tertutup. Susah banget diajak ngobrol. Oke typical seniman. Agak unik kepribadiannya. Sensitif, moody. Tapi dia sangat kreatif. Aku sangat menyukai lagu-lagu ciptaannya. Bener-bener penuh perasaan. Terkadang juga terkesan cengeng. Tapi ga picisan. Aku rasa dia ingin mengungkapkan perasaan dan isi hatinya melalui lagu-lagu ciptaannya.
Suatu ketika, saat hunting kostum manggung, secara ga sengaja aku membuka rahasia gelapnya. Bekas-bekas suntikan tersebar di seluruh lengannya. “Tatoo masa lalu bu” begitu katanya. Masa lalu yang mengikutinya dan memaksanya untuk menyerah pada akhirnya.
Sejak itu dia mulai membuka diri. Sejak itu aku jadi semakin sering bertukar pendapat dengannya. Tidak jarang juga dia jadi penasihat untuk masalah-masalahku. Ga pernah banyak bicara, tapi selalu mengena.
Kemudian datang masanya dimana keadaannya memburuk. Aku sendiri sampai sekarang masih ga tau apa pemicunya. Lama dia menarik diri dari peredaran, dari kami teman-temannya. Saat kami bertemu lagi dengannya setelah sekian lama, tubuhnya yang kurus jadi makin kurus. Saat itu aku mendengar tentang penyakitnya yang selama ini selalu berusaha disembunyikannya: HIV.
Tapi masih terlihat semangat juangnya melawan penyakitnya. Tapi toh ternyata terlambat. Tidak lama setelah kondisinya memburuk, dia pun pergi. Aku tidak sempat melihatnya di saat-saat terakhirnya. Aku tidak sempat berpamitan.
Aku merasa kehilangan teman untuk bertukar pikiran. Aku kehilangan seorang penasihat. Tapi aku juga berbahagia untuknya, karena dia telah mendapatkan pembebasan. Pembebasan dari segala penyakit yang di deritanya. Aku bersyukur pernah mengenalnya. Satu lagi malaikat yang dikirim Tuhan untuk memberiku pengalaman hidup, meski akhirnya Tuhan memanggilnya kembali.
Selamat jalan sahabat, kami akan selalu mengenangmu. Lagu-lagumu akan selalu kami putar bila merindukanmu.





A typical dragon lady, who can’t stand still. Curious, always want to learn new things. Falls in love in a crowded city, which she couldn’t like at first. Moody, stubborn, easy-going but a thinker. Spend her money mostly on Food and Books. Addicted to chocolate, comics and crime series.

